Menjalani praktik klinik di rumah sakit, puskesmas, atau klinik bersalin merupakan salah satu momen paling berharga sekaligus menantang bagi mahasiswa kebidanan. Di lahan praktik, Anda akan berinteraksi langsung dengan pasien dan diawasi secara ketat oleh pembimbing klinik. Dalam proses belajar ini, mendapatkan teguran atau evaluasi adalah hal yang lumrah terjadi. Namun, tidak sedikit mahasiswa yang merasa kecil hati atau tersinggung ketika mendapatkan masukan yang tajam.
Padahal, evaluasi dari senior atau pembimbing adalah jembatan emas untuk membentuk kompetensi klinis yang matang. Memahami cara menerima kritik dari pembimbing klinik dengan bijak akan membantu Anda bertransformasi menjadi tenaga kesehatan yang handal, profesional, dan bermental baja.
Berikut adalah beberapa panduan praktis bagi mahasiswa kebidanan dalam menyikapi setiap masukan dan evaluasi selama menjalani masa praktik.
1. Singkirkan Ego dan Jangan Langsung Bersikap Defensif
Reaksi natural manusia saat dikritik adalah merasa diserang dan secara otomatis ingin membela diri. Ketika pembimbing klinik menunjukkan kesalahan prosedur tindakan yang Anda lakukan, godaan terbesar adalah segera menjelaskan alasan atau mencari pembenaran.
Tarik napas dalam-dalam dan tahan keinginan untuk memotong pembicaraan. Ingatlah bahwa fokus utama pembimbing bukan untuk menjatuhkan mental Anda, melainkan untuk memastikan keselamatan pasien serta menegakkan standar pelayanan kebidanan yang benar. Dengan menyingkirkan ego sejenak, Anda bisa mendengarkan inti permasalahan secara jernih.
2. Dengarkan dengan Seksama Sampai Selesai
Sering kali, mahasiswa baru mendengarkan setengah dari kalimat pembimbing lalu sudah menyimpulkan bahwa mereka sedang dimarahi. Dengarkanlah penjelasan pembimbing secara utuh. Perhatikan poin-poin spesifik apa yang mereka soroti. Apakah itu terkait teknik pemasangan alat, ketepatan dokumentasi, atau bahkan sikap Anda saat menghadapi pasien? Menyimak secara aktif menunjukkan bahwa Anda menghargai ilmu dan pengalaman yang mereka bagikan.
3. Ajukan Pertanyaan Klarifikasi yang Sopan
Menerima masukan bukan berarti Anda harus diam seribu bahasa tanpa memahami esensinya. Jika ada arahan yang kurang jelas atau Anda bingung mengapa tindakan Anda dianggap salah, ajukan pertanyaan dengan nada bicara yang sopan dan santun.
Misalnya, Anda bisa bertanya, “Mohon izin, Bidan, apakah langkah pemasangan alat tadi ada yang terlewat atau posisinya kurang tepat sehingga saya bisa memperbaikinya pada tindakan berikutnya?” Pertanyaan ini menunjukkan inisiatif tinggi untuk belajar dan memperbaiki diri, bukan sekadar mencari-cari alasan.
Kemampuan berkomunikasi secara profesional seperti ini juga sangat berguna ketika Anda nantinya harus berinteraksi dengan berbagai pihak di fasilitas kesehatan, termasuk dalam menerapkan panduan praktis cara berkomunikasi dengan ibu hamil secara profesional maupun saat menyampaikan informasi medis kepada keluarga pasien.
4. Pisahkan Antara Urusan Pribadi dan Profesional
Terkadang, cara penyampaian pembimbing klinik terdengar tegas, keras, atau kurang ramah di telinga Anda. Penting untuk membedakan antara substansi pesan dan cara penyampaiannya.
Meskipun nada bicara pembimbing mungkin membuat perasaan tidak nyaman, fokuslah sepenuhnya pada substansi keilmuannya. Jangan membawa teguran tersebut ke dalam hati atau menganggap pembimbing tidak menyukai Anda secara pribadi. Menjaga hubungan baik dengan tenaga kesehatan senior di lahan praktik adalah bagian penting dari etika mahasiswa kebidanan saat praktik klinik di lahan pelayanan.
5. Catat dan Lakukan Evaluasi Diri
Setelah jam praktik selesai, luangkan waktu sejenak untuk merenungkan apa saja yang terjadi hari itu. Catat kritik atau saran yang Anda terima ke dalam buku catatan pribadi. Tuliskan pula langkah-langkah konkrit yang akan Anda ambil untuk menghindari kesalahan yang sama di kemudian hari.
Evaluasi mandiri ini melatih kedisiplinan dan kesadaran diri. Ketika Anda membiasakan diri untuk terus memperbaiki kekurangan sejak masa kuliah, hal ini akan membentuk fondasi yang kuat bagi cara membangun sikap profesional calon bidan sejak masa kuliah.
6. Jadikan Motivasi untuk Belajar Lebih Giat
Jangan biarkan satu atau dua teguran merusak semangat belajar Anda di lahan praktik. Anggaplah setiap kritik sebagai bentuk perhatian dari pembimbing agar Anda kelak menjadi bidan yang kompeten, teliti, dan minim kesalahan di masa depan.
Dunia kebidanan menuntut ketelitian tinggi karena menyangkut keselamatan ibu dan bayi. Kesalahan kecil yang ditegur hari ini bisa jadi merupakan penyelamat nyawa pasien di kemudian hari saat Anda sudah lulus dan berpraktik secara mandiri.
Menghadapi dunia praktik klinik memang memerlukan kesiapan mental yang matang. Dengan membiasakan diri menerima evaluasi secara terbuka, tidak defensif, serta selalu ingin memperbaiki diri, Anda tidak hanya akan lulus ujian praktik dengan nilai memuaskan, tetapi juga tumbuh menjadi tenaga kesehatan yang tangguh dan diandalkan.







Leave a Reply